Yang Selama Ini Kutunda, Yang Selama Ini Kita Abaikan
![]() |
| Foto oleh Edwin Andrade di Unsplash |
"Siapa yang sejak awal Ramadhan ini tidak pernah meninggalkan satu pun shalat wajib?"
Saya melemparkan pertanyaan itu kepada satu ruangan berisi siswa SMA. Saat itu bulan Ramadhan. Saya berharap cukup banyak tangan yang akan terangkat. Setidaknya separuh ruangan. Atau mungkin sepertiga.
Namun yang terjadi justru membuat saya terdiam.
Dari ratusan siswa yang ada di hadapan saya, hanya satu atau dua orang yang mengangkat tangan dengan ragu. Selebihnya memilih diam, saling menoleh, atau menundukkan kepala. Sebagian bahkan tersenyum malu.
Pemandangan itu terus teringat hingga hari ini.
Bukan karena saya sedang menghakimi mereka. Justru sebaliknya. Saya membayangkan betapa banyak anak-anak muslim yang tumbuh besar tanpa benar-benar mendapatkan bekal agama yang cukup untuk menjalani kewajiban paling dasar dalam hidupnya. Dan yang lebih mengusik pikiran saya, mereka bukan anak-anak kecil. Mereka adalah siswa SMA yang sudah baligh, sudah mukallaf, dan sudah memikul tanggung jawab agama di hadapan Allah.
Pengalaman itu saya dapatkan ketika beberapa tahun berturut-turut dipercaya menjadi salah satu pemateri dalam program Ramadhan yang diselenggarakan pemerintah provinsi. Program tersebut menyasar siswa muslim di sekolah-sekolah menengah atas negeri.
Dalam rentang 2022 hingga 2025, saya berkesempatan mengisi kegiatan serupa di beberapa sekolah berbeda, dengan latar belakang peserta yang beragam. Ada sekolah yang hampir seluruh siswanya muslim dengan jumlah mencapai ribuan orang. Ada pula sekolah yang siswanya berasal dari berbagai agama dan muslim hanya sebagian kecil dari keseluruhan peserta didik.
Saya hadir di sana dalam kapasitas sebagai guru dari sebuah sekolah Islam berasrama. Bersama beberapa dai, muballigh, dan guru mengaji lainnya, kami bergantian mengisi materi keagamaan selama bulan Ramadhan.
Awalnya saya mengira tantangan terbesar para remaja adalah persoalan pergaulan, media sosial, atau krisis identitas yang sering menjadi pembahasan utama ketika berbicara tentang generasi muda. Namun semakin sering berinteraksi dengan mereka, saya menemukan kenyataan yang jauh lebih mendasar.
Di setiap sesi, saya selalu menyisihkan beberapa menit menjelang akhir pertemuan untuk membuka ruang tanya jawab. Agar mereka tidak sungkan, saya tidak meminta mereka bertanya secara langsung. Saya justru membagikan kertas kecil dan meminta mereka menuliskan pertanyaan yang selama ini membingungkan mereka tentang ibadah sehari-hari. Nama tidak perlu ditulis. Siapa pun boleh bertanya apa saja.
Cara itu ternyata sangat efektif.
Kertas-kertas yang terkumpul hampir selalu penuh. Namun yang membuat saya terkejut bukan jumlah pertanyaannya, melainkan isi pertanyaan itu sendiri. Sebagian besar bukan pertanyaan rumit yang membutuhkan kajian mendalam. Mereka tidak bertanya tentang perbedaan pendapat para ulama atau persoalan fikih kontemporer yang kompleks. Yang mereka tanyakan justru hal-hal yang seharusnya sudah mereka pahami sejak lama.
Ada yang masih bingung tentang tata cara mandi wajib. Ada yang tidak yakin apakah shalatnya sah ketika salah membaca bacaan tertentu. Ada yang bertanya tentang haid dan ibadah. Ada yang masih belum memahami batasan-batasan dasar dalam bersuci. Bahkan tidak sedikit yang mengaku belum lancar membaca Al-Qur'an, termasuk pada surat Al-Fatihah yang setiap hari dibaca dalam shalat.
Semakin banyak saya membaca pertanyaan-pertanyaan itu, semakin besar kegelisahan yang saya rasakan. Bukan karena mereka bertanya. Justru bertanya adalah tanda bahwa mereka masih memiliki keinginan untuk belajar. Yang membuat saya khawatir adalah kenyataan bahwa mereka sudah berada pada usia remaja akhir, tetapi masih membawa kebingungan yang seharusnya sudah terselesaikan jauh sebelumnya.
Kegelisahan itulah yang kemudian melahirkan sebuah rencana. Saya ingin menulis buku fikih sederhana untuk remaja. Sebuah buku yang tidak dipenuhi istilah-istilah berat, tetapi berisi jawaban atas pertanyaan nyata yang mereka hadapi setiap hari. Bahkan saya sempat membayangkan judulnya. Saat itu saya ingin menamainya Fikih for Teen, kumpulan tanya jawab praktis seputar ibadah sehari-hari yang disusun berdasarkan pertanyaan-pertanyaan asli para remaja.
Sayangnya, sebagaimana banyak niat baik lainnya, rencana itu perlahan tenggelam di antara berbagai kesibukan. Perpindahan tempat tinggal, perubahan amanah pekerjaan, dan berbagai aktivitas lainnya membuat ide tersebut terus bergeser ke daftar prioritas yang entah kapan akan disentuh kembali. Hingga hari ini, buku itu masih belum selesai ditulis. Bahkan mungkin belum benar-benar dimulai.
Namun meskipun bukunya belum ada, kegelisahan yang melahirkannya tidak pernah benar-benar hilang.
Kegelisahan itu kembali muncul setiap kali saya mengingat satu pertanyaan sederhana yang pernah saya lontarkan kepada para siswa.
"Siapa yang pernah meninggalkan shalat wajib?"
Hampir semua mengangkat tangan.
Ketika pertanyaan saya persempit menjadi, "Siapa yang sejak baligh pernah meninggalkan shalat wajib?", jumlah tangan yang terangkat ternyata masih sangat banyak.
Lalu ketika pertanyaan itu dipersempit lagi menjadi, "Siapa yang sejak awal Ramadhan ini tidak pernah meninggalkan satu pun shalat wajib?", ruangan mendadak sepi.
Pemandangan itulah yang membuat saya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang perlu kita renungkan bersama sebagai orang tua.
Hari ini kita hidup pada zaman ketika pendidikan anak menjadi perhatian utama hampir setiap keluarga. Kita rela mengeluarkan biaya besar untuk kursus bahasa asing, les matematika, pelatihan komputer, kelas robotik, hingga berbagai keterampilan yang dianggap penting untuk masa depan mereka. Semua itu tentu baik dan patut diapresiasi. Tidak ada yang salah dengan mempersiapkan anak menghadapi tantangan zaman.
Namun dalam kesibukan menyiapkan masa depan dunia mereka, jangan sampai kita lupa menyiapkan bekal yang akan mereka gunakan setiap hari hingga akhir hayatnya.
Sebab ada ilmu yang manfaatnya mungkin baru terasa ketika seseorang memasuki dunia kerja. Ada ilmu yang baru digunakan ketika seseorang menekuni profesi tertentu. Namun ada pula ilmu yang harus digunakan sejak hari ini, sejak seseorang baligh, bahkan hingga napas terakhirnya. Ilmu tentang shalat, bersuci, membaca Al-Qur'an, halal dan haram, serta berbagai kewajiban agama lainnya termasuk dalam kategori ini.
Karena itulah para ulama sejak dahulu memberikan perhatian besar terhadap ilmu yang bersifat fardhu ain. Ilmu yang wajib diketahui setiap muslim sebelum ia mempelajari ilmu-ilmu lain yang lebih luas. Sebab tidak ada orang lain yang dapat menggantikan shalat kita, menggantikan wudhu kita, atau menggantikan pertanggungjawaban kita di hadapan Allah kelak.
Mungkin karena itu pula pendidikan agama seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pelengkap pendidikan formal. Ia adalah fondasi. Terutama pada masa-masa awal kehidupan anak ketika mereka masih belajar dari rumah, masih meniru kebiasaan orang tuanya, dan masih membangun cara pandangnya terhadap agama. Pada fase itulah mereka tidak hanya membutuhkan sekolah yang mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga lingkungan yang membiasakan ibadah, mengajarkan Al-Qur'an, dan menanamkan kecintaan kepada Allah sejak dini.
Buku yang pernah saya rencanakan itu memang masih tertunda hingga sekarang. Namun mungkin ada hikmah yang bisa saya petik dari penundaan tersebut. Bahwa persoalannya ternyata bukan sekadar belum adanya buku. Persoalannya jauh lebih besar daripada itu. Ia menyangkut cara kita menentukan prioritas dalam mendidik anak-anak kita.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat dari profesi yang berhasil mereka raih, tetapi juga dari kemampuan mereka menjaga hubungan dengan Rabb yang menciptakan mereka. Dan mungkin, sebelum kita bertanya ingin menjadi apa anak kita di masa depan, ada satu pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab terlebih dahulu.
Sudahkah kita memastikan mereka mampu menjalankan agamanya dengan benar hari ini?
Reviewed by Cak Dul
on
11:04
Rating:


Tidak ada komentar:
Syukran telah berkunjung. Silahkan beri komentar membangun.