30 Malam Bersama Al-Qur’an (14): Taqwa, Ihsan dan Ma’iyyah Allah

Memasuki malam ke-14 Ramadhan 1447 H ini, Imam Qiyamullail kami Ustadz Darmoyo mengajak kami menyusuri lorong-lorong refleksi yang tidak ringan. 


Dari akhir surat Al-Hijr kami diingatkan tentang keteguhan Nabi dalam menghadapi ejekan dan penolakan, lalu memasuki surat An-Nahl yang memaparkan hamparan nikmat Allah dengan detail yang hampir tak menyisakan celah untuk ingkar. 


Tentang bumi yang dihamparkan, hujan yang diturunkan, lebah yang diilhamkan, hingga sistem kehidupan yang berjalan presisi tanpa kita kendalikan. Seakan-akan Al-Qur’an sedang mengguncang kesadaran kita, apakah di tengah limpahan nikmat itu kita masih merasa sendiri, masih merasa kurang, atau masih meragukan arah hidup.


Lalu di penghujung surat An-Nahl, sekaligus penutup juz 14, imam yang merupakan jebolan PUZ-STIS Hidayatullah Balikpapan itu membawa kami menapaktilasi perjalanan dakwah Nabi Muhammad melalui tiga ayat yang terasa seperti manifesto spiritual seorang da’i. 


Ayat 125 memerintahkan berdakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik. Ayat 126–127 mengajarkan etika membalas dan perintah bersabar, sebuah pesan yang mengingatkan kita pada pengakuan Yusuf tentang taqwa dan sabar di malam sebelumnya. 


Dan akhirnya ayat 128 menutup semuanya dengan satu janji yang menenangkan, bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan mereka yang berbuat ihsan. Dari metode dakwah, pengendalian emosi, hingga janji kebersamaan ilahi, rangkaian ini terasa seperti jembatan yang kokoh menuju pembahasan tentang makna ma’iyyah Allah yang telah kita uraikan.


Ayat 128 ini begitu ringkas tetapi terasa sangat personal, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” 


Ayat 128 ini seperti simpulan dari perjalanan panjang tema taqwa yang sudah kita bicarakan sejak malam pertama. Jika pada malam ke-13 kita merenungi pengakuan Yusuf bahwa siapa yang bertaqwa dan bersabar tidak akan disia-siakan, malam ini kita mendengar jaminan yang lebih intim. Bukan hanya pahala yang tidak hilang, tetapi kebersamaan Allah itu sendiri.


Kalimat “Allah bersama” dalam ayat ini tentu bukan kebersamaan fisik. Para mufasir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah ma’iyyah khusus, kebersamaan dalam bentuk pertolongan, penjagaan, bimbingan, dan penguatan. 


Allah bersama semua makhluk-Nya dalam arti ilmu dan pengawasan, tetapi bersama orang-orang bertaqwa dan muhsinin dalam arti dukungan dan rahmat yang khusus. Di sinilah letak kedalaman ayat ini. Taqwa tidak hanya berujung pada surga di akhirat, tetapi pada rasa ditemani di dunia.


Ramadhan sering kali kita jalani dengan dua perasaan yang bergantian. Di satu sisi ada kehangatan kebersamaan jamaah, suara imam, saf yang rapat, doa yang panjang. 


Di sisi lain ada kesunyian yang sangat personal. Lapar yang tidak bisa sepenuhnya dipahami orang lain. Pergulatan batin yang tidak selalu bisa diceritakan. Dalam kesunyian itu, ayat ini hadir seperti pelukan maknawi. Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.


Jika kita tarik ke belakang, sejak QS Al-Baqarah ayat 183 kita telah memahami bahwa tujuan puasa adalah taqwa. Namun taqwa dalam Al-Qur’an bukan konsep abstrak. Ia selalu diterjemahkan dalam sikap konkret. 


Dalam juz-juz sebelumnya kita belajar bahwa taqwa melahirkan kesabaran, seperti yang ditegaskan Yusuf. Taqwa menuntun pada istiqamah sebagaimana dalam surat Hud. Taqwa menahan kita dari menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan. Kini dalam surat An-Nahl kita diajak melihat bahwa taqwa juga melahirkan ihsan.


Ayat 128 ini menyandingkan dua kelompok, al-ladzina ittaqau dan al-ladzina hum muhsinun. 


Ada ulama yang menjelaskan bahwa ihsan adalah level lanjutan dari taqwa. Jika taqwa adalah menjaga diri dari pelanggaran, ihsan adalah melampaui kewajiban minimal dan melakukan yang terbaik. Taqwa menghindarkan kita dari dosa, ihsan mendorong kita aktif berbuat kebaikan.


Dalam konteks puasa, taqwa membuat kita tidak makan dan minum di siang hari. Ihsan membuat kita peduli pada mereka yang bahkan ketika malam pun tidak punya makanan. Taqwa menahan lisan dari dusta. Ihsan mendorong lisan untuk menguatkan dan menyembuhkan. Taqwa menjaga hati dari iri. Ihsan menumbuhkan doa tulus untuk keberhasilan orang lain.


Surat An-Nahl sendiri penuh dengan pengulangan tentang nikmat Allah. Tentang hewan ternak, hujan yang menumbuhkan tanaman, lebah yang menghasilkan madu, siang dan malam yang silih berganti. 


Seolah-olah Al-Qur’an ingin mengatakan bahwa taqwa dan ihsan tidak mungkin tumbuh di hati yang tidak pandai bersyukur. Kesadaran bahwa Allah memberi begitu banyak sebelum kita meminta akan melahirkan rasa malu untuk bermaksiat dan dorongan untuk berbuat lebih baik.


Malam ini saya teringat pada perenungan di malam ke-10 ketika kita berbicara tentang taubat dan kejujuran spiritual. Taubat sering lahir dari rasa bersalah. Namun ihsan lahir dari rasa cinta. Orang yang merasa diawasi mungkin berhenti dari dosa. Tetapi orang yang merasa ditemani akan terdorong untuk menyenangkan.


Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan muhsinin. Kalimat ini memberi perspektif baru tentang perjuangan batin yang kita jalani di pertengahan Ramadhan. Kadang kita merasa ibadah kita biasa saja. Tidak khusyuk-khusyuk amat. Tidak pula buruk. Di tengah perasaan datar itu, ayat ini mengingatkan bahwa ukuran utama bukan sensasi spiritual, tetapi kualitas taqwa dan ihsan yang kita bangun.


Kebersamaan Allah bukan berarti hidup tanpa masalah. Yusuf tetap diuji meski bertaqwa. Para nabi tetap disakiti meski muhsinin. Tetapi kebersamaan itu mengubah cara mereka memandang ujian. Ia memberi ketenangan di tengah badai. Ia memberi arah ketika jalan terasa gelap.


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengukur keberhasilan dari hasil yang terlihat. Jabatan, penghasilan, pengakuan. Padahal Al-Qur’an menggeser ukuran itu. Keberhasilan sejati adalah ketika Allah bersama kita. Dan indikator kebersamaan itu bukan kemewahan, melainkan taqwa dan ihsan.


Taqwa dalam pengertian sederhana adalah kesadaran yang membuat kita berhati-hati. Seperti seseorang yang berjalan di jalan penuh duri, ia akan mengangkat pakaiannya dan melangkah dengan waspada. 


Tetapi ihsan adalah ketika orang itu bukan hanya berhati-hati untuk dirinya, melainkan juga membersihkan duri agar orang lain tidak terluka. Dua sikap ini jika bertemu akan melahirkan pribadi yang matang secara spiritual dan sosial.


Ramadhan adalah laboratorium terbaik untuk melatih keduanya. Kita menahan diri dari yang halal demi ketaatan. Kita memperbanyak sedekah, memberi makan, memperbaiki hubungan. Semua itu bukan sekadar ritual, tetapi latihan membangun karakter yang layak mendapatkan ma’iyyah khusus dari Allah.


Ada dimensi yang sangat menenangkan dari ayat ini. Kebersamaan Allah tidak disebutkan dalam bentuk lampau atau masa depan, tetapi dalam bentuk yang menunjukkan keadaan. Allah bersama. Seolah-olah ia adalah realitas yang sedang berlangsung, bukan janji yang ditunda. 


Ini mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah bukan hanya proyek akhirat, tetapi pengalaman dunia yang bisa dirasakan melalui ketenangan, kejelasan arah, dan kekuatan menghadapi tekanan.


Malam ke-14 ini berada tepat di pertengahan Ramadhan. Secara psikologis, ini fase rawan. Semangat awal mulai turun, sementara garis akhir masih terasa jauh. Ayat ini seperti oase di tengah perjalanan. Jangan ukur ibadahmu hanya dari rasa. Ukur dari kesungguhan menjaga taqwa dan memperluas ihsan. Jika itu ada, maka Allah bersama.



Saya pulang dari masjid dengan sesuatu yang berbeda dari malam sebelumnya. Jika malam ke-13 membuat kita merenung tentang luka dan kesabaran, malam ini membuat kita merenung tentang kebersamaan. Tentang apakah selama ini saya lebih banyak merasa sendirian dalam perjuangan, padahal janji kebersamaan itu begitu jelas.


Pertanyaan yang tersisa untuk malam berikutnya mungkin bukan lagi tentang apa yang harus kita lakukan, tetapi tentang bagaimana menjaga kualitas taqwa dan ihsan itu tetap hidup hingga akhir Ramadhan, bahkan hingga di luar Ramadhan. 


Jika Allah bersama orang-orang bertaqwa dan muhsinin, bagaimana memastikan kita tidak hanya bertaqwa sesaat, tetapi tumbuh menjadi pribadi yang konsisten dalam ihsan, bahkan setelah bulan ini berlalu.



BTP, 4 Maret 2026 - 14 Ramadhan 1447 H

30 Malam Bersama Al-Qur’an (14): Taqwa, Ihsan dan Ma’iyyah Allah 30 Malam Bersama Al-Qur’an (14): Taqwa, Ihsan dan Ma’iyyah Allah Reviewed by Cak Dul on 09:02 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Syukran telah berkunjung. Silahkan beri komentar membangun.

ads
Diberdayakan oleh Blogger.