Mulai Dulu, Soal "Mampu" Urusan Nanti
![]() |
| Pict by Abigail on Unsplash |
Malam Senin lalu, 31 Mei 2026, saya akhirnya memenuhi sebuah panggilan tugas. Tugasnya sederhana. Mengejar sesuatu yang ditendang menjauh, lalu menendangnya kembali.
Yang tidak sederhana adalah kondisi saya saat itu. Beberapa pekan sebelumnya, engkel saya mengalami cedera. Meski sudah jauh membaik, proses pemulihannya belum benar-benar selesai. Masih ada rasa tidak nyaman ketika bergerak terlalu cepat atau mengubah arah secara mendadak.
Sejak jadwal kegiatan itu ditetapkan, saya sempat dilanda keraguan. Ikut atau tidak?
Di satu sisi, saya merasa kondisi fisik belum sepenuhnya siap. Di sisi lain, ada dorongan yang terus menguat untuk tetap hadir. Bukan semata karena saya merasa sudah bisa berlari lagi, meski belum maksimal. Ada alasan lain yang lebih besar daripada sekadar soal kemampuan fisik.
Saya adalah penanggung jawab program sinergi tersebut dari lembaga tempat saya bekerja. Saya menjadi penghubung, perunding jadwal, sekaligus representasi lembaga dalam kegiatan itu.
Kalau Anda penasaran, ya, tugas yang saya maksud memang sesederhana itu. Mengejar sesuatu yang ditendang menjauh. Bahasa sederhananya, bermain bola. Tepatnya mini soccer.
Saya menyebutnya tugas karena kegiatan ini memang bagian dari sinergi dua lembaga yang berada dalam satu payung organisasi. Ada tujuan kebersamaan yang ingin dibangun, ada komunikasi yang perlu dijaga, dan ada hubungan yang perlu dirawat.
Kadang-kadang, tugas memang tidak selalu hadir dalam bentuk rapat resmi, lembar administrasi, atau forum yang serius. Sesekali, tugas juga datang dalam bentuk lapangan hijau, bola, keringat, dan tawa.
Namun, yang sebenarnya ingin saya ceritakan bukan tentang sepak bolanya. Yang ingin saya ceritakan adalah tentang tanggung jawab.
Karena terus terang, jika hanya mempertimbangkan kondisi fisik, mungkin saya punya cukup alasan untuk tidak ikut bermain. Cedera adalah alasan yang cukup masuk akal. Tidak ada yang akan menyalahkan.
Tetapi ada kalanya dalam hidup, yang dibutuhkan bukanlah kondisi sempurna. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk tetap hadir.
Maka saya memutuskan datang. Niat awalnya sederhana. Hadir saja sudah cukup. Berdiri di pinggir lapangan, menyapa peserta, memastikan kegiatan berjalan baik, lalu pulang tanpa perlu ikut bermain.
Setidaknya itulah rencana saya.
Namun setelah tiba di lokasi, saya mulai mencoba bergerak perlahan. Berjalan. Berlari kecil. Menggerakkan kaki. Menendang bola pelan saat pemanasan.
Ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan. Rasa nyeri masih ada, tetapi tidak menghalangi gerak. Keraguan yang sejak beberapa hari sebelumnya memenuhi pikiran, perlahan mulai berkurang.
"Sepertinya bisa ji ini main." Begitulah kira-kira kalimat yang muncul dalam benak saya.
Dan akhirnya, saya ikut bermain. Tidak aktif. Tidak dominan. Tidak juga bermain penuh seperti biasanya. Tetapi saya bermain.
Di tengah permainan itu, saya menyadari sesuatu.
Sering kali yang paling berat bukanlah menjalani tugasnya, melainkan mengambil keputusan untuk memulai. Yang membuat kita tertahan bukan selalu keterbatasan yang nyata, melainkan bayangan-bayangan tentang kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.
Kita takut gagal sebelum mencoba. Kita khawatir sakit sebelum bergerak. Kita mundur sebelum benar-benar melangkah.
Padahal setelah hadir dan menjalaninya, sering kali kita menemukan bahwa kemampuan kita ternyata lebih besar daripada yang kita kira.
Tentu, ini bukan ajakan untuk mengabaikan kondisi diri atau memaksakan sesuatu secara berlebihan. Ada keadaan tertentu yang memang mengharuskan seseorang beristirahat dan menjaga diri.
Tetapi dalam banyak kesempatan, ada perbedaan besar antara "tidak mampu" dan "belum berani mencoba".
Malam itu mengingatkan saya bahwa tanggung jawab sering kali dimulai dari hal yang sangat sederhana, yaitu hadir.
Hadir ketika dibutuhkan. Hadir meski tidak dalam kondisi terbaik. Hadir meski hanya bisa memberikan sedikit.
Karena tidak semua kontribusi diukur dari seberapa besar yang kita lakukan. Kadang-kadang, kontribusi terbesar justru datang dari kesediaan untuk tidak menghilang.
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)
Barangkali itulah pelajaran yang saya bawa pulang malam itu. Bukan tentang kemenangan atau hasil pertandingan. Bukan pula tentang berapa gol yang tercipta. Melainkan tentang keberanian untuk tetap melangkah meski belum sepenuhnya pulih.
Sebab dalam perjalanan hidup, kita tidak selalu harus menunggu menjadi sempurna untuk menjalankan amanah. Kadang, cukup hadir dengan segala keterbatasan yang ada, lalu melakukan yang terbaik yang kita mampu.
Karena sering kali, langkah pertama yang paling bernilai bukanlah berlari. Melainkan keputusan untuk tetap datang ke lapangan.
Reviewed by Cak Dul
on
11:00
Rating:


Tidak ada komentar:
Syukran telah berkunjung. Silahkan beri komentar membangun.