Ketika Pikiran Belum Sampai Tujuan
Ada sesuatu yang selalu saya anggap lucu setiap kali berdiri di depan kelas.
Bukan karena tingkah santri yang kadang mampu menghadirkan cerita baru setiap hari. Bukan pula karena suasana pesantren yang selalu menyimpan kejutan. Yang lucu justru sering kali adalah diri saya sendiri.
Beberapa menit sebelum mengajar, tubuh saya memang sudah berada di depan pintu kelas. Buku sudah di tangan. Jadwal sudah siap. Bel sudah berbunyi. Namun pikiran saya kadang masih tertinggal di tempat lain.
Sesekali saya masih mengulang percakapan yang terjadi beberapa menit sebelumnya. Kadang masih memikirkan pesan yang masuk di grup WhatsApp yayasan. Pernah juga saya sibuk mengingat apakah tadi benar benar sudah mematikan keran air atau belum. Secara fisik saya hadir. Tetapi secara utuh, saya belum sampai.
Semakin lama mengajar, semakin saya menyadari bahwa memulai sesuatu ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar melangkahkan kaki.
Selama bertahun tahun berada di lingkungan pesantren, saya telah melewati begitu banyak permulaan. Permulaan tahun ajaran baru. Permulaan semester. Permulaan halaqah Al Quran selepas Subuh ketika mata masih berusaha berdamai dengan kantuk. Bahkan permulaan setiap jam pelajaran yang tampak biasa saja.
Namun di balik semua itu, selalu ada satu hal yang sering luput diperhatikan. Ada jarak yang sangat tipis antara hadir dan benar benar hadir. Ada perbedaan antara berada di suatu tempat dan memberikan diri sepenuhnya pada tempat itu.
Barangkali itulah salah satu penyakit zaman yang paling sering tidak kita sadari.
Kita hadir dalam rapat, tetapi pikiran sedang mengembara ke pekerjaan lain. Kita duduk bersama keluarga, tetapi perhatian tertawan oleh layar gawai. Kita membaca Al Quran, tetapi hati sibuk memikirkan urusan yang belum selesai. Kita menjalani hari, tetapi sering kali tanpa benar benar tinggal di dalamnya.
Tubuh bergerak lebih cepat daripada jiwa.
Padahal dalam banyak tradisi keilmuan Islam, kesiapan batin sebelum memulai sebuah amal selalu mendapat perhatian besar. Para ulama tidak hanya berbicara tentang apa yang dikerjakan, tetapi juga bagaimana seseorang mempersiapkan dirinya sebelum mengerjakannya.
Ada sebuah kaidah sederhana yang sering terlupakan. Amal yang baik tidak lahir begitu saja. Ia membutuhkan isti'dad, yaitu kesiapan.
Menariknya, kesiapan yang dimaksud tidak selalu berkaitan dengan kemampuan teknis. Seseorang bisa saja sangat menguasai materi yang akan diajarkan, tetapi datang ke kelas dengan pikiran yang tercerai berai. Seseorang bisa saja memiliki daftar pekerjaan yang lengkap, tetapi menjalankannya tanpa kesadaran dan tanpa kehadiran hati.
Karena itu, kesiapan bukan hanya soal apa yang ada di tangan. Kesiapan adalah apa yang sedang terjadi di dalam diri.
Dalam tradisi pendidikan Islam klasik, para guru dianjurkan memulai proses belajar mengajar dengan doa. Sebagian ulama bahkan menekankan pentingnya memperbarui niat sebelum menyampaikan ilmu. Sekilas tampak sederhana. Namun jika direnungkan lebih dalam, doa sebenarnya adalah cara untuk menghentikan sejenak arus kesibukan yang terus mengalir.
Doa mengingatkan bahwa apa yang akan dilakukan bukan sekadar rutinitas.
Seorang guru tidak sedang memindahkan informasi dari satu kepala ke kepala yang lain. Seorang guru sedang ikut membentuk cara berpikir, cara memandang kehidupan, bahkan mungkin arah masa depan seseorang. Karena itu, mengajar tidak layak dilakukan sambil lalu.
Hal yang sama sebenarnya berlaku untuk banyak hal dalam kehidupan kita.
Menjadi orang tua membutuhkan kehadiran. Menjadi pemimpin membutuhkan kehadiran. Menjadi sahabat membutuhkan kehadiran. Bahkan menjadi hamba Allah yang baik pun membutuhkan kehadiran.
Sayangnya, dunia modern tidak terlalu ramah terhadap kemampuan untuk hadir sepenuhnya.
Notifikasi datang tanpa henti. Informasi berebut perhatian. Percakapan yang satu belum selesai, percakapan yang lain sudah menunggu. Kita hidup dalam zaman yang membuat pikiran selalu sibuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Akibatnya, banyak dari kita menjalani hari dalam keadaan setengah sadar. Bekerja sambil memikirkan hal lain. Beribadah sambil memikirkan pekerjaan. Beristirahat sambil memikirkan target yang belum tercapai.
Kita terus bergerak, tetapi tidak pernah benar benar tiba.
Mungkin karena itulah hari keempat perjalanan menulis ini terasa menarik bagi saya.
Tiga hari pertama biasanya masih dipenuhi semangat awal. Ada energi yang membuat semuanya terasa ringan. Namun hari keempat mulai menghadirkan pertanyaan yang lebih jujur. Apakah ini akan menjadi kebiasaan, atau hanya euforia sesaat?
Sebagai pengajar, saya sudah terlalu sering melihat pola yang sama. Pekan pertama menghafal Al Quran biasanya berjalan penuh antusiasme. Target dibuat dengan percaya diri. Jadwal disusun dengan rapi.
Namun ujian sesungguhnya bukan terjadi pada hari pertama. Ujian sesungguhnya datang ketika semangat mulai menurun dan rutinitas mulai terasa biasa.
Di situlah seseorang mengetahui apakah ia sedang membangun kebiasaan atau hanya menikmati sensasi permulaan.
Karena itu, tulisan ini saya tulis bukan karena sedang berada dalam kondisi paling siap. Justru sebaliknya. Saya menulis karena menyadari bahwa menunggu siap sering kali hanya cara yang lebih sopan untuk menunda.
Banyak hal baik dalam hidup tidak pernah lahir karena kita menunggu keadaan sempurna. Padahal keadaan sempurna hampir tidak pernah datang.
Tulisan pertama tidak harus sempurna untuk ditulis. Langkah pertama tidak harus sempurna untuk diambil. Perubahan pertama tidak harus sempurna untuk dimulai.
Yang dibutuhkan sering kali hanyalah keberanian untuk hadir. Hadir dengan segala keterbatasan. Hadir dengan segala kekurangan. Hadir sambil terus belajar memperbaiki diri.
Barangkali inilah makna isti'dad yang paling dekat dengan kehidupan kita. Bukan menunggu sampai semuanya ideal, melainkan menyiapkan hati untuk melangkah sejauh yang kita mampu hari ini.
Sebab dalam banyak perjalanan, yang paling menentukan bukanlah seberapa hebat kita memulai. Yang paling menentukan adalah kesediaan untuk terus hadir, bahkan ketika semangat tidak lagi seramai hari pertama.
Dan mungkin, pertumbuhan yang sesungguhnya memang dimulai dari sana. Dari kemampuan sederhana untuk berkata kepada diri sendiri setiap hari, "Aku belum sempurna. Tetapi hari ini aku akan tetap hadir."
Reviewed by Cak Dul
on
11:11
Rating:


Tidak ada komentar:
Syukran telah berkunjung. Silahkan beri komentar membangun.