Maju Selangkah untuk Ibu, untuk Terakhir Kalinya

 


Maju Selangkah untuk Ibu, untuk Terakhir Kalinya

Al-Aziz Ibnu Basyir
Quran Tutor, Ghostwriter, Student at edu.hsi.id

Siang itu, Rabu (3/6/2026), masjid pesantren tampak lebih hening dari biasanya. Beberapa santri berjalan perlahan menuju saf. Para ustadz, guru, pegawai, dan jamaah mulai memenuhi ruang utama masjid selepas azan Zuhur berkumandang. Di bagian depan telah terbaring seorang jenazah yang sebentar lagi akan diantarkan menuju peristirahatan terakhirnya.

Dua hari sebelumnya, kabar duka datang dari salah satu keluarga yang tinggal di sekitar kompleks pesantren. Seorang ibu telah berpulang. Sebagaimana lazimnya masyarakat sekitar, pihak keluarga meminta agar jenazah dibawa ke masjid pesantren untuk dishalatkan bersama oleh para ustadz, santri, dan jamaah. Permintaan itu tentu kami sambut dengan baik.

Sejak pagi, keluarga juga menyampaikan satu permintaan lain yang lebih spesifik. Mereka berharap pihak pesantren yang menjadi imam shalat jenazah. Permintaan itu terdengar wajar. Di tengah suasana kehilangan, tidak semua anggota keluarga merasa siap berdiri di depan ratusan jamaah untuk memimpin shalat. Karena itulah kami menyiapkan seorang imam sebagaimana yang diminta.

Segala sesuatunya tampak sudah jelas. Imam telah ditentukan. Jamaah mulai berdatangan. Prosesi tinggal menunggu waktu pelaksanaan.

Namun menjelang shalat jenazah dimulai, terjadi sesuatu yang tidak kami duga.

Seorang laki laki menyeruak di tengah jamaah shalat zhuhur, yang tengah bersiap melaksankan shalat jenazah. Wajahnya tampak lelah. Mungkin sejak pagi ia belum benar benar beristirahat. Di tengah suasana yang masih diliputi kesedihan, ia menyampaikan kepada pengelola masjid bahwa dirinya ingin menjadi imam shalat jenazah untuk ibunya.

Ia adalah anak kandung almarhumah.

Permintaan itu tentu kami sambut dengan baik. Imam yang sebelumnya telah disiapkan pun mempersilakan. Beberapa saat kemudian, laki laki itu berdiri di depan saf. Di belakangnya, ratusan jamaah bersiap mengikuti takbir demi takbir yang akan ia pimpin.

Saya memandang pemandangan itu cukup lama.

Bukan karena ada sesuatu yang luar biasa dalam tata cara pelaksanaannya. Semua berlangsung sebagaimana mestinya. Namun ada satu hal yang terasa berbeda. Ada sebuah keberanian yang sedang saya saksikan.

Saya membayangkan bahwa mungkin sebelumnya ia tidak pernah mengimami shalat jenazah dengan jumlah jamaah sebanyak itu. Mungkin ia merasa gugup. Mungkin ia merasa ada orang lain yang lebih layak. Bahkan bisa jadi sejak pagi ia sendiri belum berpikir untuk menjadi imam sehingga keluarganya meminta bantuan pihak pesantren.

Tetapi pada akhirnya ia melangkah maju.

Dan sering kali, hidup memang berubah karena satu langkah maju yang sederhana.

Kita sering mengira bahwa orang yang melakukan hal besar adalah orang yang paling siap. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak orang bertumbuh justru karena mereka berani memulai ketika kesempatan itu datang.

Mereka tidak menunggu sempurna. Mereka tidak menunggu percaya diri seratus persen. Mereka hanya memutuskan untuk melangkah. Barangkali itulah yang dilakukan oleh sang anak tersebut siang itu.

Di hadapannya terbujur jasad seorang perempuan yang selama puluhan tahun telah merawatnya. Perempuan yang mungkin pernah begadang saat ia sakit. Perempuan yang mengajarinya berjalan, berbicara, dan mengenal kehidupan. Kini, untuk terakhir kalinya, ia berdiri memimpin doa bagi ibunya sendiri.

Ada sesuatu yang terasa sangat menyentuh dalam pemandangan itu.

Karena pada akhirnya, tidak semua bentuk bakti dapat dilakukan selama orang tua masih hidup. Ada bakti yang baru terasa maknanya ketika kesempatan itu hampir berlalu. Ada bakti yang hanya datang sekali seumur hidup.

Dan kesempatan menjadi imam shalat jenazah bagi ibu sendiri mungkin termasuk salah satunya.

Saya teringat sebuah nasihat yang sering kita dengar namun jarang benar benar kita renungkan. Banyak kebaikan yang tertunda bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena kita terlalu lama menunggu siap.

Kita ingin mulai menulis ketika sudah merasa pandai. Kita ingin mulai menghafal Al Quran ketika jadwal sudah longgar. Kita ingin mulai berdakwah ketika ilmu sudah dianggap cukup. Kita ingin mengambil tanggung jawab ketika rasa takut sudah hilang.

Masalahnya, rasa siap itu sering kali tidak pernah datang. Yang datang justru kesempatan. Dan kesempatan tidak selalu menunggu.

Siang itu saya belajar bahwa keberanian bukanlah hilangnya rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun rasa takut masih ada.

Sang anak mungkin tetap gugup ketika berdiri di depan jamaah. Mungkin suaranya tidak setenang imam yang biasa memimpin shalat. Mungkin ada keraguan yang masih tersisa di dalam dirinya. Namun ia tetap maju.

Dan karena ia maju, ia memperoleh sesuatu yang mungkin akan dikenangnya sepanjang hidup. Ia telah mengantar ibunya dengan caranya sendiri. Ia telah memberikan penghormatan terakhir yang tidak dapat diwakilkan sepenuhnya oleh orang lain.

Ia telah maju selangkah untuk ibunya, untuk terakhir kalinya.

Ketika shalat selesai dan jamaah mulai beranjak meninggalkan masjid, saya membawa pulang satu pelajaran yang berharga. Terkadang hidup tidak meminta kita menjadi yang paling hebat. Hidup hanya meminta kita bersedia mengambil satu langkah ketika kesempatan itu datang.

Satu langkah menuju kebaikan. Satu langkah menuju tanggung jawab. Satu langkah menuju bakti. Satu langkah menuju versi diri yang lebih baik. Bukankah setiap perjalanan besar selalu dimulai dengan langkah pertama?

Dan mungkin, sebagaimana anak itu yang akhirnya berdiri di depan jenazah ibunya sendiri, kita pun perlu belajar untuk tidak selalu menunggu siap. Sebab ada saat saat dalam hidup yang hanya datang sekali. Ketika kesempatan itu hadir, yang dibutuhkan bukanlah keberanian yang sempurna, melainkan kesediaan untuk maju selangkah.

Maju selangkah untuk kebaikan. Maju selangkah untuk orang yang kita cintai.

Maju selangkah, sebelum kesempatan itu berlalu untuk selamanya.

Maju Selangkah untuk Ibu, untuk Terakhir Kalinya Maju Selangkah untuk Ibu, untuk Terakhir Kalinya Reviewed by Cak Dul on 14:28 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Syukran telah berkunjung. Silahkan beri komentar membangun.

ads
Diberdayakan oleh Blogger.